+ Cinta pada pandangan pertama
Saya yakin anda pernah mengalaminya, bahkan mungkin anda masih mengingat sosokya sampai saat ini. Cinta pada pandangan pertama baru tahap jatuh cinta atau pesona pada ketertarikan fisik saja. Cinta seperti itu digolongkan dalam passionate love yang ditandai oleh rasa rindu yang hebat untuk bertemu. Berbeda dengan true love yang lebih dewasa, sangat jauh dari emos yang menggebu-gebu dan merupakan perpaduan antara rasa kasih sayang yang mendalam, pengertian, komitmen dan keintiman. Ketertarikan atau pesona pada pandangan pertama bisa saja kemudian berubah dan berkembang menjadi true love setelah diikuti dengan proses berikutnya, yaitu perkenalan dan penjajakan. Dalam islam, perkenalan dan penjajakan seharusnya tidak berlebihan. Semuanya diatur dalam mekanisme ta`aruf menuju pernikahan. Oleh karena itu sebaiknya pandangan terus dijaga, menunduk dan mengalihkan pandangan bila memang bukan haknya. Karena bila sudah memandang, biasanya akan mengundang ketertarikan. Banyak sudah yang membuktikan, bahwa memori karena pandangan tidak mudah untuk dihilangkan.

+ Fase datangnya cinta

Dalam hubungan antar jenis kelamin, terutama yang sedanng dilanda asmara, fenomena cinta sebenarnya terlalu sulit dirasakan. Nah, ketika mata bertemu yang berlanjut pada persentuhan tangan, biasanya orang akan merasakan gejala yang sama, yaitu darah mengalir lebih cepat, semburat merah muncul pada pipi, keringat dingin membasahi telapak tangan, bahkan menghela napaspun jadi terasa berat. Dalam situasi seperti inilah hati bagaikan bergolak, disesaki gelora cinta. Menurut Helen Fischer, seoarng “peneliti cinta” pada Universitas Boston, AS. reaksi romantisme semacam itu timbul berkat kerja sejumlah hormon yang ada dalam tubuh, khususnya pada hormon yang diproduksi oleh otak. Gelora cinta manusia yang meledak-ledak. Celakanya, senyawa antar hormon ini sangat rentan, dan berdasarkan toeri four years itch yang dipublikasikanya, daya tahan gelora cinta itu hanya mencapai empat tahun saja. Setelah itu punah tak berbekas, sebagaimana yang terjadi pada sebuah reaksi kimia, wujudnya tak akan pernah kembali seperti semula.
Sesungguhnya pula, perasaan yang menghanyutkan dalam masa jatuh cinta tadi bisa dianalisis secara kimiawi, jadi prosesnya dimulai saat mata saling bertemu. Tangan yang bersentuhan bagaikan dialiri tegangan listrik. Fenomena ini sudah pasti karena ulah hormon tertentu yang ada di otak, mengalir ke seluruh saraf hingga ke pembuluh darah yang terkecil sekalipun. Inilah yang membuat wajah memerah, dan timbul perasaan melayang, aliran darah yang demikian cepat membuat bernafaspun menjadi berat. Ngmong-ngmong bagaimana hormon dalam otak bekerja, ketika seorang jatuh cinta? Bisa dijelaskan sebagai berikut. Ketika kontak mata sedang berlansung tertanam sebuah kesan, inilah fase pertama. Otak bekerja bagaikan komputer yang menyajikan sejumlah data yang pernah terekam sebelumnya, ia mencari apa yang membuat pesona itu muncul. Kalau sudah begini bau yang ditimbulkan oleh lawan jenis pun bisa menjadi pemicu timbulnya rasa romantis. Fase kedua, yaitu munculnya hormon phenylethylamine (PEA) yang diproduksi oleh otak. Inilah sebabnya terkesan oleh seseorang, secara otomatis senyumpun dilontarkan, spontan, pabrik PEA pun aktif bekerja ketika “peluit” mulai dibunyikan. Hormon dopamine dan norepinephrine yang juga terdapat dalam saraf manusia turut mendampingi, hormon-hormon inilah yang menjadi pemicu timbulnya gelora cinta. Setelah dua tiga tahun, efektivitas hormon-hormon ini mulai berkurang. Fase Ketiga, yaitu ketika gelora cinta sudah reda, yabng tersisa hanyalah kasih sayang. Hormon endorphins, senyawa kimia yang identik dengan morfin, mengalir ke otak. Sebagaimana efek yang ditimbulkan narkotik, saat inilah tubuh merasa nyaman, damai dan tenang. Ada hormon lain yang akhir-akhir ini dihubungkan dengan cinta. Diproduksi oleh otak, hormon ini membuat saraf menjadi sensitif, saat itulah tubuh akan didorong untuk merasakan sensasi cinta. Hormon ini pulalah yang diduga bisa mendorong terjadinya proses orgasme ketika bercinta.


Created by d'za

Baca Pula Artikel Terkait >>





0 comments

Post a Comment